Manusia dan Pemikirannya
Seruan-seruan
Sekarang, banyak sekali dosen dan mahasiswa yang menggembar-gemborkan mengenai sejarah, dengan slogan Bung Karno “JAS MERAH”—Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Banyak pula yang menanggapi positif akan hal ini, karena memang sejarah itu penting, tapi, kenapa saat ada seorang manusia atau aktivis da’wah menyuarakan mengenai pentingnya agama, tak sedikit yang berpikir negatif. Ketika ada seseorang yang berupaya mengingatkan temannya untuk melakukan ibadah, terkadang ada yang menanggapinya dengan sinis dan menganggapnya terlalu berlebihan (baca: maniak). Saya sering bingung dengan tanggapan seperti ini, meskipun hal ini tidak dapat dipungkiri, namun hal ini dapat mengakibatkan efek buruk terhadap pribadi orang tersebut dan lingkungan sekitarnya.
Menurut saya, yang dianggap berlebihan itu jika menganggap bahwa “semua tempat (maaf) zina harus dihancurkan” atau "umat muslim (perempuan) yang tidak/belum memakai jilbab harus dijauhi". Contoh lainnya adalah Bom, tapi saya tidak mau berkomentar banyak mengenai kasus ini.
Mengapa slogan-slogan mengenai kehidupan (yang lebih fokus pada hal duniawi) lebih merebak dibandingkan dengan seruan-seruan untuk mengingat Allah dan menjalankan perintahnya ??? hal ini menjadi pertanyaan besar untuk kita, umat muslim khususnya bagi para aktivis da’wah.
Penduduk Muslim Terbanyak, tapi....
Negara kita merupakan negara dengan jumlah umat muslim terbanyak—menurut data jumlah agama yang dianut penduduk. Bila kita menilik dari segi praktiknya—maksudnya kesadaran untuk mengamalkan perintah Allah dalam keseharian—masih kurang, atau mungkin jumlahnya sangat sedikit. Artinya, mayoritas adalah islam KTP. Na’udzubillah... Semoga kita tergolong dalam umat-NYA yang patuh padanya dan menjauhi laranga-NYA.
Apa sebetulnya yang menyebabkan hal ini dapat terjadi ? pertama, kurangnya rasa ingin tahu mengenai tujuan penciptaan manusia di Bumi. Ada 2 kemungkinan bagi seorang pemain game bila tidak mengetahui tujuan game yang dimainkan : mencari tahu atau berhenti bermain. Sama halnya dengan manusia, bila ia tidak tahu tujuan utama dirinya di Bumi, ia akan terombang-ambing kesana-kemari (baca : hidupnya gak jelas). Perbedaannya dengan pemain game adalah : pemain game dapat memilih game lain untuk dimainkan, namun dalam kasus ini sang pemain game tidak dapat memilih game lain dan harus menyelesaikan game tersebut sampai batas waktu yang ditentukan.
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada Ku” [Q.S. Az-Zariyat, 51 : 56]
Faktor kedua adalah kurangnya ilmu dan adanya rasa gengsi untuk mengakui bahwa Islam adalah agama yang benar. Jika lingkungannya tidak mendukung dirinya untuk menjalankan perintah Allah, maka ada 2 kemungkinan : berpegang teguh pada prinsip yaitu menjalankan perintah-NYA, kedua adalah memalingkan diri dari ajaran Allah karena gengsi atau takut akan lingkungan (diusir, dikucilkan, dibunuh, dsb).
“Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur’an ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang banyak membantah.” [Q.S. Al-Kahf, 18 : 54]
Berserah Diri
Sungguh Allah, Tuhan Pencipta Jagad Raya telah menyuruh kita untuk menaati dan berserah diri pada-NYA. “Maka segeralah kembali (mentaati) Allah” [Q.S. Az-Zariyat, 51 : 50]. Dalam Q.S Yusuf, 12 ayat 108 : “Katakanlah, “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku (Muhammad) berda’wah kepada Allah dengan hujjah yang nyata....””.
“Siapakan yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”” [Q.S. Fussilat, 41 : 30]
Perdebatan antar Kubu dan Pluralisme
Tak dapat dipungkiri bahwa dari berpuluh-puluh golongan umat Islam yang ada, hanya ada 1 yang benar, yaitu yang benar-benar berpedoman pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Orang-orang ini dapat dikatakan sebagai “golongan yang sedikit” –sudah dijanjikan oleh Allah bahwa hanya kaum yang berada dalam golongan inilah yang akan masuk syurga-NYA.
Allah memberi perintah kepada kita untuk tidak terlalu banyak berdebat (debat kusir, tiada penyelesaiannya). Hal ini tercantun dalam Al-Qur’an dan dalam salah satu riwayat Imam Hasan Al-Banna. Terkadang kita masih sering dipusingkan dengan pertengkaran antar harokah akibat perbedaan-perbedaan diantara mereka.
Abu Hurairah radiallahu anhu berkata, “Rasulullah salallahu ‘alaihhi wassallam bersabda : “Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, saling membelakangi dan janganlah membeli/menjual barang yang hendak dibeli/dijual oleh orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak mendzhaliminya, tidak membohonginya dan tidak menghinanya. Takwa itu ada di sini—seraya menunjuk dadanya 3 kali—Cukuplah seseorang dinilai buruk jika ia menghina (merendahkan) saudara sesama muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya diharamkan darahnya, hartanya dan kehormatannya.”” [Hadist Arba’in ke-35].
Perbedaan harokah tidak seharusnya membuat kita semakin bermusuhan antar umat Islam karena Allah memang menciptakan manusia bebeda-beda terutama dalam hal pola pikir, dengan tujuan agar kita saling mengenal dan bersatu.
Tapi, kata “bersatu” di sini maksudnya adalah hidup berdampingan dan damai, bukan berarti “mencampur-adukkan” adat-budaya-bahkan agama. Islam tidak mengenal Pluralisme.
Bagi saya pribadi : “Tuhan yang kami sembah, Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak sama dengan Tuhan yang kalian sembah”. Tuhanku ya tuhanku, Agamaku ya agamaku. Tuhanmu ya Tuhanmu, Agamamu ya agamamu.
Sekulerisasi
Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, ‘Abdurrahman bin Shakhr radiallahu anhu berkata : “Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Apa-apa yang telah aku larang untukmu, maka jauhilah dan apa-apa yang telah aku perintahkan kepadamu maka kerjakanlah semampumu. Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dibinasakan disebabkan mereka banyak bertanya dan menentang Nabi-Nabi mereka (tidak taat dan patuh). [Hadist Arba’in ke-9].
Apa sebenarnya makna hadist tersebut ? Maknanya adalah Allah telah menyuruh kita untuk beribadah kepadanya dengan cara merujuk kapada Qur’an dan cara-cara peribadatan yang dilakukan oleh Rasulullah saw.(perkataan-perbuatan beliau). Kedua, Islam dapat “mengikuti perkembangan zaman” tapi tetap ada aturan mutlak yang harus dipatuhi, tak bisa diubah.
Ketiga, jangan banyak bertanya dan berdebat namun tidak ada ujungnya dan jangan banyak bertanya jika hasil dari pertanyaan atau musyawarah tersebut tidak dilaksanakan. Itu hanya membuang waktu dan energi.
Keempat, terdapat nilai sejarah dalam hadist tersebut, artinya mengingat dan belajar dari sejarah itu boleh dan penting, tapi kenapa sekarang ini kita hanya mengingat masa lampau tanpa mengaplikasikannya ? bukankah selama ini kebanyakan dari kita selalu membanding-bandingkan kejadian lampau dan sekarang ? ditambah lagi banyak hal/variabel yang diikutsertakan dalam upaya pembandingan tersebut seperti kondisi sosial, ekonomi, pola pikir masyarakat dan lain sebagainya.
Selain itu, jarang ada yang mengungkit sejarah Nabi dan Rasul dalam segi perekonomian dan pembangunan Negara. Padalah banyak hikmah yang dapat diambil dan diaplikasikan dalam kehidupan bernegara. Kebanyakan dari kita biasanya mengambil dari sudut pandang tauhidullah dan da’wah saja. Padahal masih banyak yang bisa dikaji dan dijadikan contoh. Mengapa hal ini bisa terjadi ? karena pada umumnya masyarakat hanya mengenal Sirah Nabawiyah ataupun Sirah Sahabiyah sebagai ilmu yang HANYA terpusat pada da’wah. Pola pikir seperti inilah yang menyebabkan sekulerisasi di Nusantara dapat berkembang cepat.
Hati-hati
Berhati-hatilah dalam melangkah, sungguh hidup itu memang tidak mudah dan tak selalu indah. Siapa yang dapat menolong kita SETIAP SAAT jikalau bukan Allah Azza wa Jalla ? Adakah diantara orang-orang yang disekitar kita yang dapat memastikan bahwa dirinya PASTI ada di samping kita setiap saat atau di saat kita membutuhkan ??? Tidak ! karena penyataan yang benar adalah : “Mereka ada di samping kita jika Allah menghendaki”.. bagaimana jika mereka telah tiada saat kita membutuhkannya ? umur manusia itu pendek dan PASTI mati. Kita boleh menaruh harapan kepada mereka untuk senantiasa ada di dekat kita di saat kita Bangkit adan Jatuh. Tapi, tempatkanlah Allah diatas mereka (posisi yang utama). Sungguh manusia itu banyak kelemahan dan tidak bisa berbuat apa-apa tanpa seizin Allah. Semua yang ada di alam semesta terjadi atas kehendak Allah.
Subhanallah walhamdulillah walailahailallah. Allahuakbar !!
--Bogor 5 Desember 2011.
JAMA'AH
Hidup berjama’ah dalam pandangan Islam merupakan syari’at utama terpeliharanya aqidah, tegaknya syariah dan tersebarnya da’wah ISlamiyah. Islam sebagai aqidah tuhid senantiasa menghadapi banyak tantangan dari berbagai ajaran yang berpihak pada kekufuran dan kemusyrikan. Islam diturunkan untuk membebaskan manusia dari penyembahan hamba kepada hamba menuju pembebeasan kepada Zat Mahasatu dan Maha-Esa.
Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia beraneka ragam dengan kemampuan memahami Al-Islam yang berbeda pula. Oleh sebab itu perlu adanya tolong-menolong dalam kebajikan dan ketaqwaan. Sesungguhnya orang yang mengisolir diri dalam kehidupan akan menghadapi bahaya.